ADIK-ADIK KITA : GENERASI RAWAN!

Angsana, Rumbai, Caltex Camp

Angsana, Rumbai, Caltex Camp

A. PAGI YANG MENGGELITIK

Pancasila…Satu…Kemanusiaan yang adil dan beradab…

Sama kaya kalian, gw juga kaget. Anak kelas 4 SD, gw ulang lagi, anak kelas 4 SD, dengan lantangnya menyebutkan isi sila pertama dari Pancasila dan salah. Anak ini bukan sedang dites lisan di depan kelasnya, ataupun lagi ngobrol sama temen sekelasnya.
Tapi ini di acara kuis yg disiarkan oleh salah satu stasiun TV swasta.
Saya yakin, orangtua, guru, keluarga, teman, bahkan beribu pasang mata menyaksikannya.

B. GENERASI MUDA BANGSA
Berjuta-juta pertanyaan yang diawali dengan kata tanya-Kenapa-.Kenapa ini bisa terjadi, kenapa si anak kecil itu malah nyebutin isi sila ke 2, kenapa, kenapa dan kenapa.

1. Public Speaking
Pernah ga kalian ngeliat anak bule diwawancara sama reporter. Ketika ditanya, let say, tentang isi kebun binatang, kenapa dia suka kesana, dan lain-lain, dia menjawab semua itu dengan tidak singkat, bukan jawaban berupa “iya” dan “tidak”. Mereka sudah memiliki pola kalimat sejak dini. Jadi ketika bertemu kamera, merekapun terbiasa dengan jawaban “Saya suka ke kebun binatang KARENA …bla bla bla”. Bandingkan dengan adik-adik kita yang ketika diwawancara nampak seperti didikite, dengan tatapan ketakutan, gugup, dan pasif. Ketika wawancara, sering kita temuin percakapan seperti ini. “Adek, adek SUKA ke kebun binatang?”, dijawab “SUKA”. “Kenapa?”(Sampai sini gw masih berharap adik kecil itu berkreasi dengan kata-kata). “…..”,dia tidak menjawab. Reporter pun menolongnya dengan contekan “Suka binatangnya YA?”, akhirnya dia menjawab “IYA”. Pesan (yang mungkin) tersembunyi apa yg didapat oleh bocah-bocah lainnya yg menyaksikannya di rumah? Rasa gugup di depan kamera. So, mungkin sedikit wajar ketika tau seluruh moncong kamera menghadap ke arahnya, seluruh mata melihatnya, dan di sini gw masih berbaik sangka bahwa sebenernya dia tau jawabannya, hanya saja dia gugup.
Gimana caranya buat ngelatih adek-adek kita buat lancar ngomong di depan orang-orang, kamera, atau sesuatu dalam bentuk formil?

2. Salah siapa hayoooo?
Ok,tadi gw masih berbaik sangka, tapi gimana kalo itu anak bener-bener ga tau? Salah siapa?
Guru? Aah, gw yakin mereka udah ngajarin dan nyuruh ngapalin, nanti dites, dikasi nilai. Tapi ya sampe situ aja. Ga ada aksi lanjutan.
Lalu? Siapa lagi?
Orang tua? Bukannya skeptis, tapi orang tua jaman sekarang makin sibuk. Nyuruh anak belajar. Anak masuk kamar. Percaya, dikira belajar. Pak, Bu, dampingi mereka! Gw pernah baca, seorang ibu baru tau, ternyata anaknya yg udah duduk di kelas 6 SD masih dieja. Ada lagi anak kelas 3 SMA yg ga bisa baca bilangan, dan menyebut RP.10.001.000 dengan “Seribu seribu rupiah”. Miris!
Di masa SD, sekitar kelas 2-3, gw akuin cuman 1 permasalahan/kendala yg gw dapetin tentang Pancasila. Ya, bener. Sila ke-4! Kepanjangan. Susah ngehapalnya. Tapi hanya hitungan menit gw bisa menghapalnya.
Ok, siapa lagi nih yg bisa kita salahin? Si anaknya sendiri juga kenapa ga ngapalin sih? Jaman dulu sih ga terlalu banyak fasilitas yg bikin gw teralihkan dr pelajaran. Jaman sekarang, rental PS di mana-mana, Mall ngejamur, belom bahaya di dalem rumah yaitu TV ( gw heran anak-anak sekarang lebih jago ngikutin cara bicara di sinetron, daripada bahasa Indonesia yg bener! So, kalo kalian punya ponakan yg cara ngomongnya ke-sinetron-sinetron-an, jauhin dari gw, gw ringan tangan untuk hal ini:P )
Buat catatan, waktu gw kecil, tiap malem gw tidur bareng Aki (Kakek; Sunda). Di kamar yg ga terlalu gede itu ada sebuah peta buta Indonesia menempel di dinding, globe usang di meja samping ranjang, dan buku atlas yang sampulnya udah lusuh. Gw baru boleh tidur KALAU: 1. Tepat menebak 3 lokasi yg dipilih secara acak menggunakan jarum dart yg Aki lempar di atas peta buta. 2. Tepat menunjukan letak suatu negara pada globe yang Aki minta, dengan petunjuk yang HANYA berupa bendera ( yang ada di halaman belakang buku atlas ). Jadi gw harus nebak itu bendera apa, dan berada di mana.
Jika benar, gw boleh tidur, tapi sebelomnya, favorit gw nih, Aki bakal bercerita pengantar tidur tentang negara yg tadi udah ditunjuk.
Seandainya setiap anak punya sosok pengajar seperti Aki, gw yakin, Pancasila bukan lagi suatu masalah. Malah dari kecil udah tau apa itu terusan Suez atau terusan Panama, tentang Inca-Maya, tentang Perang Dunia, dll.

Tetapi kita mesti buka mata, dengan kecanggihan Playstation, kemeriahan Mall, kelucuan SpongeBob-Avatar-Naruto di layar TV, sulit ditandingi oleh seonggok buku pelajaran. Adalah tugas kita, Kakak, Guru, Orang tua, dan seluruh elemen yg dilewati phase pertumbuhan adik-adik kecil calon penerus bangsa.
Mereka adalah titipan.
Mereka adalah penerus.
Jika Pancasila saja mereka ga tau, bagaimana mereka memimpin negeri ini nanti!
Ayo belajar,de’!
Ayo membaca,de’!

Selamat Hari Anak Indonesia

Didedikasikan untuk Purn.Ating Suratin (alm)
15-09-1925 – 23-08-2005

Superhero-Guru-“Perpustakaan”-Aki sekaligus sahabat

Nuhun ‘Ki, erik ngintun Al-Fatihah ti dieu!

Categories: celotehsierik | 2 Comments

Post navigation

2 thoughts on “ADIK-ADIK KITA : GENERASI RAWAN!

  1. Huaaaa.. Sedih.. Liat negara ini ‘ancur2an’ di segala hal sih sebenernya udh biasa dan cenderung mati rasa gw, tp ketika dr generasi anak2 kecil nya pun udh kayak gt.. Hmmph.. Sedih bgt!

    • Gw baru aja denger kabar, kontingen dari Indonesia berhasil menyabet 4 emas + 1 perak di Olimpiade Fisika ( CMIIW yaaa😀 ).
      Yah, mudah2an masih ada “kemenangan” buat adik2 kita ya,nis ( pertama kalinya gw manggil lo “nis” kan?:P ). Selama mereka mau Membaca.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: